Inilah Saya dan Kontribusi Saya Untuk Indonesia
Nama saya Sofi Siti
Sofiah. Saya dilahirkan di kabupaten Garut pada kamis pagi tanggal 18 februari
1999. Saya dibesarkan di dalam keluarga yang sederhana, religius, dan disiplin.
Karena dibesarkan dalam keluarga inilah menurut kerabat dekat dan teman-teman
saya, saya tumbuh menjadi orang yang religius, tidak suka berfoya-foya, dan bertutur
kata santun. Selain itu, kerabat dan teman-teman sering menyebut saya sebagai
pribadi yang pintar dan cerdas. Hal ini karena saya selalu ranking kelas, mudah
mempelajari dan memahami sesuatu, serta sering diikutsertakan
dalam berbagai perlombaan. Oleh karenanya, saya menjadi kebanggaan keluarga dan
saya pun dituntut untuk bisa mempertahankan prestasi tersebut.
Namun, label 'pintar'
tersebut ternyata membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak peka akan
lingkungan dan teman sekitar. Walaupun saya aktif di organisasi, tetapi tidak
serta merta menumbuhkan kemampuan public speaking
saya. Saya menjadi orang yang pendiam dan jarang berinteraksi dengan orang
lain.
Saat SMA pun saya masih
tetap menjadi orang yang 'kaku', pintar, namun tidak memiliki kemampuan
bersosialisasi dengan baik. Hingga suatu ketika prestasi saya tiba-tiba
menurun, peringkat saya di kelas pun keluar dari 3
besar dan
karena hal ini pula saya dimarahi
habis-habisan oleh orangtua. Saya pun sedikit depresi dan merasa bahwa ini
adalah titik terendah dalam hidup saya selama ini.
Setelah sekian lama saya
terpuruk, tiba-tiba saya pun mulai berpikir bahwa "Tak apa gagal,
jadikanlah hal itu sebagai pengalaman hidup yang paling berharga dan cobalah
untuk melihat sekelilingmu, masih banyak hal yang dapat kamu pelajari dibanding
hal yang bersifat akademik yang selama ini kamu puja". Dan akhirnya saya
pun mulai menyemangati diri saya kembali. Saya ucapkan dan saya tekadkan
benar-benar kalimat tersebut dalam hati dan pikiran saya. Hingga akhirnya saya
pun mulai membuka diri, menyapa orang terlebih dulu, dan berusaha berinteraksi
dengan mereka. Dan tenyata benar, banyak sekali hal baru dan pelajaran hidup
yang begitu berharga yang tidak bisa saya dapatkan di dalam buku.
Perubahan diri saya
tersebut mulai disadari oleh orang tua dan keluarga. Mereka bangga akhirnya
saya bisa berinteraksi dengan orang lain, tidak hanya berkutat dengan buku-buku
tebal saja. Dan mereka pun menyemangati saya untuk mulai giat belajar kembali namun tetap tidak melupakan lingkungan sekitar. Hingga akhirnya alhamdulillah
saya diterima SBMPTN di jurusan Pendidikan Akuntansi UPI. Dan orangtua saya
terutama ayah pun bangga sekali dengan pencapaian tersebut, karena anaknya bisa
kuliah mewujudkan impian ayah selama ini yang
tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi.
Kontribusi yang telah,
sedang, dan akan saya berikan untuk Indonesia
Hasil riset Jenna R Jambeck
dan kawan-kawan (publikasi di www.sciencemag.org
12 Februari 2015) yang diunduh dari laman www.iswa.org
pada 20 Januari 2016 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua penyumbang
sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri
Lanka. (www.kompas.com)
Berada di kawasan Kampung
Munggang, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, di atas
pembatas jalan tersebut tampak tumpukan sampah sepanjang 50 meter yang sebagian
besar merupakan sampah plastik rumah tangga. (jabar.tribunnews.com)
Beginilah keadaan
Indonesia hari ini. Sampah-sampah terutama sampah plastik ada dimana-mana, di
jalan raya, trotoar jalan, sungai-sungai, bahkan di
lingkungan sekolah pun tidak luput akan keberadaan sampah yang berserakan.
Kebanyakan masyarakat Indonesia kurang peduli akan keberadaan sampah yang
berserakan tersebut dan tetap ikut andil membuang sampah dimana saja. Dan ketika terjadi
banjir siapa yang disalahkan, pemerintah. Sebagian masyarakat kita beranggapan
bahwa pemerintahlah yang salah karena kurang peduli akan masyarakatnya sehingga
tidak bisa mencegah banjir ketika musim penghujan tiba. Padahal masyarakat
seharusnya berkaca kepada diri sendiri yang sering mengabaikan lingkungan dan tetap
mengotorinya.
Karena hal itulah saya mulai membiasakan diri saya dari kecil hingga
sekarang untuk membuang sampah pada tempatnya, dan ketika tidak menemukan
tempat sampah saya menyimpan sampah di tas atau di saku baju terlebih dulu
hingga menemukan tempat sampah. Selain itu, mulai mengurangi pemakaian kantong
kresek dan plastik juga menjadi salah satu langkah saya akan kepedulian
terhadap lingkungan.
Mungkin kontribusi yang telah dan sedang saya lakukan untuk Indonesia ini
terlihat sepele, namun bukankah kita juga jangan mengabaikan hal-hal kecil
karena lama-lama bisa menjadi bukit. Jadi kontribusi yang saya akan lakukan
untuk Indonesia adalah mengajak orang-orang mulai sadar akan lingkungannya
karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaganya. Dan berkontribusi
disini bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sering diabaikan, sehingga
lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan akan semakin menumbuhkan kecintaan
kita terhadap lingkungan sekitar.
Komentar
Posting Komentar